Lama juga aku tidak menjenguk Blog yang sebenarnya menjadi andalan ini. Seperti ada kebuntuan dalam pikiran saya. Entah kenapa. Aku sendiri tidak tahu. Semangat ngeblog ternyata lagi blong dan kosong.
Posted in Monash University | Tagged lupa posting | Comments Off
“Long time no see! Where have you been?” This is a start for a conversation among old friends. They have not seen each other for a long time so that they miss each other. Then, close friends separated for some periods of time will review their activities in the past or check their old friends in nowhere.
This is a start for me to remember past experiences I did in Melbourne, that was in the year of 2000. Even in the class, at a specific class in Monash University, this had been been discussed by July Harrington as she gave her lecturer in front of 11 MORA students. That was the saying she suggested. And I suggested that, in Javanese, nek cedak kabeh mambu telek nek adoh ambune koyo kembang. July was rather surprised, “What does that mean!?” Everything smells like a shit when it is near, as we are separated, all will smell like flowers.
The situation happened years ago is now flying in heart. I miss my friends. I miss a time where I can go Melbourne someday.
Posted in Learning, Monash University | Tagged Melbourne | Comments Off
Dibilang narciss juga tidak apa-apa. Pembicaraan ini baru saja terungkap ketika seorang teman guru berada di luar kelas. Saya menyapanya. Sedikitnya kita ngobrol tentang persoalan yang biasa-biasa saja. Dalam pembicaraan ini dia bertanya, “Apa bapak tidak kepingin pindah ke perguruan tinggi saja? Kayaknya bapak lebih cocok di sana dan mungkin kesejahteraannya akan jauh meningkat.” Menjadi dosen, bisikku dalam hati. Saya memang mau. Selama ini saya juga sudah mengajar di sebuah PTS di Bojonegoro. Namun maksud bapak guru ini lain. Ini menanyakan mengapa saya tidak meninggalkan posisi saya sebagai guru di sekolah menengah dan melimpah mejadi dosen saja.
Saran lain dari seorang teman malah ekstrim sekali. Hanya karena kepala sekolah baru, saya disarankan untuk mengajukan pindah sekolah atau mengusahakan sebuah promosi sebagai kepala sekolah. Saya dianggap akan merugi bila masih berada di sekolah tempat mengajar yang sekarang in.
Posted in Personal Experiences | Comments Off
Pagi hari, sekitar pukul tujuh, pesawat mendarat di bandara Sidney. Kita semua bergegas turun pesawat dan memasuki koridor koridor penerbangan domistik. Kami transit menuju Melbourne. Proses perpindahan diperintahkan secepatnya, sehingga tidak lagi sempat untuk window-shopping. Seperempat jam kita semua sudah on-board lagi.
Pesawat sudah penuh sesak dengan penumpang yang mayoritas berkulit putih. Di pesawat ini kita semua yang dianggap sebagai turis. Wajah-wajah berkulit sawo matang ini sempat juga menaraik perhatian banyak orang. Itu hanya sebentar. Kelihatannya mereka bukan tipe orang yang mudah kaget. Setelah mendapatkan tempat duduknya masing-masing, menaruh tas tentengan, kita duduk dengan tenang. Sabuk pengaman segera dipasang. Tak lama kemudian pesawat sudah merobek udara Australia. Kita pun menuju Melbourne.
Perjalanan tidak berlangsung lama. Mungkin tak lebih dari satu jam. Suasana mendung di langit Melbourne menyambut kedatangan kita.
Posted in Personal Experiences | Comments Off
Tak usah menggambarkan perasaanku saat itu. Aku sendiri tidak terlalu ingat. Ada sedikit perasaan senang. Baru pertama kali aku akan naik pesawat terbang, bukan hanya untuk ke daerah lain di Indonesia. Aku akan segera menyeberangi lautan luas menuju Melbourne. Aku juga tidak pernah membayangkan berapa jauhnya. Sedikitnya, aku juga memiliki perasaan gusar. Ketua kelompok mengabari bahwa ia harus membuang semua bagasi yang sebelumnya dikumpulkannya dari teman-teman lain berupa peralatan mandi dan obat-obatan. Terpaksa, katanya. Tidak ada teman lain yang menemaninya mengangkat barang bawaan yang terlalu banyak. Padahal, ia sendiri yang berinisiatif untuk mengumpulkan barang-barang tersebut. Katanya, barang-barang semacam itu akan diperiksa dengan ketat oleh petugas bandara. Akhirnya barang-barang seperti obat-obatan, sabun, sampo, sikat gigi dan yang semacamnya dikumpulkan ke satu orang dan hanya diurusi oleh ketua kelompok. Semuanya percaya. Bagasi itu semua sudah musnah, ditinggalkan di petugas bandara. Kesal, marah dan tak karuan perasaanku saat itu. Duduk pun aku tidak merasa tenang.
Jadwal pesawat juga ditunda, semestinya jam 21.00 menjadi jam 23.00. Aku mondar-mandir, tidak ikut bergabung dengan teman-teman lain di ruang tunggu. Paling banyak waktuku habis di kamar mandi. Obrolan teman-teman lain masih saja perkara hilangnya bagasi, persis ketika aku bisa mendapatkan kesempatan untuk duduk sebentar. Sebagian menyayangkan kejadian tersebut. Namun, sebagian besar mengikhlaskan. Biarlah, wong cuman barang-barang begituan saja. Nanti kita bisa beli lagi di Australia. Bagi sebagian orang, pengalaman terbang ini juga baru pertama kalinya. Gratis lagi.
Panggilan kepada seluruh penumpang Qantas Air terdengar. Suara perempuan yang mungkin cantik, karena suaranya yang lantang dan sendu, membuat kami semua bergegas menuju lorong yang langsung menuju ke badan pesawat. Kami tidak harus turun melewati lantai bandara. Lorongnya langsung dipasangkan ke ujung lantai di pintu keluar ruang tunggu. Lorong itu lumayan panjang. Di ujung lorong, kami disambut oleh pilot, pramugari dan crew pesawat lainnya. Mereka bersikap ramah, menyapa dan mengarahkan penumpang masih kikuk dan tidak tahu harus duduk dimana. Paspor, visa dan tiket ada di tangan masing-masing penumpang. Tak lama kemudian kami sudah siap untuk take off.
Pesawat berangkat jam 11 malam. Semua penumpang duduk dan memasangkan sabuk pengaman karena pesawat akan take off. Aku dan teman-teman mahasiswa MORA berangkat ke Australia bersama banyak penumpang lain yang warna kulitnya berbeda dengan kami. Mereka adalah penduduk aslinya yang pulang kampung, kami menjadi turis. Turis berkulit gelap dan berpostur tubuh pendek.
Meskipun so surprised dengan penerbangan ini, rasanya tidak terlalu banyak yang bisa kami nikmati. Di luar pesawat gelap. Tidak ada pemandangan yang tampak dari kaca jendela. Namun, kami sudah sangat senang. Pagi harinya, ketika kami berada atas kota Sidney barulah kami melihat awan-awan di bawah kami. Sepertinya pesawat sedang melewati jalan setapak yang warna putih bagaikan kapas. Hamparan putih ini sempat menarik perhatian mahasiswa MORA sehingga mereka pun melongok, meskipun agak malu-malu. It’s so beautiful!
Di bandara Sidney, kami tidak memiliki banyak waktu untuk bersantai ria. Semuanya bergegas meuju sebuah pesawat yang sudah menunggu untuk transit ke Melbourne. Teman-teman MORA bergegas-gegas tanpa memperdulikan keinginan dalam hatiku yang lebih suka melihat-lihat berbagai pajangan di toko-toko yang katanya duty free. Sayang, sebenarnya aku tidak memiliki uang sepeserpun.
Dalam waktu setengah jam, semua penumpang yang akan berangkat ke Melbourne sudah berada di kabin pesawat. Kami semua sudah siap berangkat.
Posted in Personal Experiences | Tagged pesawat terbang | Comments Off
Keberangkatan menuju bandara baru dimulai setelah semua mahasiswa MORA mendapatkan paspor dan visa masing-masing dari Edlink Jakarta. Tidak ada uang saku kata seorang organizer. Uang saku hanya akan diberikan setelah kami sampai di tujuan nanti.
Seingatku uang yang ada di dalam dompetku sangat tipis. Betul aku tidak memiliki uang! Persis ketika berada di atas bis yang mengangkut kami serombongan, seorang teman yang diserahi menjadi pengurus rombongan berdiri di tengah-tengah bis dan menyatakan bahwa kami semua perlu mengumpulkan uang sebanyak Rp. 30.000,- Uang tersebut katanya akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan rombongan terkait dengan segala urusan di bandara nanti. Semua temanku menyerahkan uang yang diminta kepada ketua rombongan itu. Namanya Subhan, seorang mahasiswa yang berasal dari kota Mataram. Wah, pikirku. Cari uang dimana? Aku tidak punya sama sekali. Serta merta aku senggol seorang teman perempuan yang berasal dari Kalimantan. Halimah, pinjam uangnya untuk membayar iuran itu. Aku tidak punya uang sama sekali, nih. Iuranku dibayar olehnya. Beres untuk sementara.
Sampailah kita semua di bandara internasional Halim Perdana Kusuma. Baru pertama kali ini aku datang dan menginjakkan kaki di sebuah bandara. Waktu itu sudah pukul 21.00 WIB. Kita semua digiring masuk ke bagian Custom untuk mengecek paspor, visa dan barang-barang bawaan.
Posted in Personal Experiences | Tagged to Melbourne | Comments Off
Ribut semua mahasiswa MORA mempersiapkan berkas-berkasnya untuk mendaftarkan diri dalam program short course selama 3 bulan ke Australia. Kabar tentang program ini sangat mendadak. Tidak banyak mahasiswa yang mendengar. Mereka yang tahu hanyalah karena sering berangkat ke kampus dan kontak dengan staff pasca sarjana. Dari situlah kabar burung dibisikkan.
Ada sekitar 45 mahasiswa yang sudah terdaftar. Sewaktu saya berada di kampus, maksud saya hanyalah untuk menanyakan apa syarat-syaratnya. Ternyata syarat utama keberangkatan ke Australia adalah mahasiswa sudah menyelesaikan tesisnya. Bukti fisik dari tesis itu sendiri harus sudah diserahkan kepada petugas pada hari H yang ditentukan. Teman-teman juga menyarankan saya untuk segera menyerahkan tesis yang sedang saya kerjakan. Mereka semua tahu bahwa tesis saya dalam proses finishing. Saya sendiri mau dong berangkat ke Australia!
Tesis saya sebenarnya sudah selesai, hanya saja belum sempat saya jilidkan. Saya tidak dipanggil oleh petugas pasca sarjana karena bukti fisik dari tesis saya belum berada di meja mereka. Ketika saya sedikit bertanya kepada petugas tentang program short course ke Australia, saya sempat melirik tumpukan tesis yang berjejer di pinggiran pintu masuk. “Wah terlambat nih!” Saya kemudia bertanya bagaimana caranya saya bisa lolos mendaftarkan diri dalam program tersebut. Sarannya adalah saya harus menghubungi dekan pasca sarjana secara langsung.
Posted in Personal Experiences | Comments Off









