Tersendat-sendat rasanya. Semua kenanganku di masa lalu semestinya tidak usah terlalu mewarnai hidupku sekarang. Menuliskan semua kenangan yang pernah terjadi di Melbourne mungkin hanya menambah luka di hati. Salah satu sebabnya adalah kondisi kehidupan yang kini aku hadapi juga tidak terlalu ingin melihat apa saja yang sudah aku lakukan di sana. Sebagian orang mengatakan: “Tidak penting lagi masa lalumu itu. Kubur saja semuanya beserta impian-impian kosong. Hidupkan saja kekinian. Hidup dinilai dari apa yang bisa kita lakukan pada saat ini.”
Beginilah jalan kehidupan. Dan, selanjutnya aku meramu sajian-sajian baru agar ceritanya tidak berhenti di tengah jalan. Tidak ada salahnya, aku pikir. Apapun yang dikatakan orang setelah keputusan ini, biar menjadi pemanisnya.
Sambil menulis kali ini aku teringat dengan seorang teman dari Bali, Kamaludin. Dialah satu-satunya orang yang bisa bersikap netral dan cukup bersahabat pada perjalanan itu. Laki-laki ini menjadi tempat untuk aku mencurahkan perasaan hatiku dengan situasi di sana. Tetapi dia juga masih berkomentar tentang aku yang dikatakannya sebagai orang paling aneh yang pernah dikenalnya. Tak apa.









