Dibilang narciss juga tidak apa-apa. Pembicaraan ini baru saja terungkap ketika seorang teman guru berada di luar kelas. Saya menyapanya. Sedikitnya kita ngobrol tentang persoalan yang biasa-biasa saja. Dalam pembicaraan ini dia bertanya, “Apa bapak tidak kepingin pindah ke perguruan tinggi saja? Kayaknya bapak lebih cocok di sana dan mungkin kesejahteraannya akan jauh meningkat.” Menjadi dosen, bisikku dalam hati. Saya memang mau. Selama ini saya juga sudah mengajar di sebuah PTS di Bojonegoro. Namun maksud bapak guru ini lain. Ini menanyakan mengapa saya tidak meninggalkan posisi saya sebagai guru di sekolah menengah dan melimpah mejadi dosen saja.
Saran lain dari seorang teman malah ekstrim sekali. Hanya karena kepala sekolah baru, saya disarankan untuk mengajukan pindah sekolah atau mengusahakan sebuah promosi sebagai kepala sekolah. Saya dianggap akan merugi bila masih berada di sekolah tempat mengajar yang sekarang in.









