Tak usah menggambarkan perasaanku saat itu. Aku sendiri tidak terlalu ingat. Ada sedikit perasaan senang. Baru pertama kali aku akan naik pesawat terbang, bukan hanya untuk ke daerah lain di Indonesia. Aku akan segera menyeberangi lautan luas menuju Melbourne. Aku juga tidak pernah membayangkan berapa jauhnya. Sedikitnya, aku juga memiliki perasaan gusar. Ketua kelompok mengabari bahwa ia harus membuang semua bagasi yang sebelumnya dikumpulkannya dari teman-teman lain berupa peralatan mandi dan obat-obatan. Terpaksa, katanya. Tidak ada teman lain yang menemaninya mengangkat barang bawaan yang terlalu banyak. Padahal, ia sendiri yang berinisiatif untuk mengumpulkan barang-barang tersebut. Katanya, barang-barang semacam itu akan diperiksa dengan ketat oleh petugas bandara. Akhirnya barang-barang seperti obat-obatan, sabun, sampo, sikat gigi dan yang semacamnya dikumpulkan ke satu orang dan hanya diurusi oleh ketua kelompok. Semuanya percaya. Bagasi itu semua sudah musnah, ditinggalkan di petugas bandara. Kesal, marah dan tak karuan perasaanku saat itu. Duduk pun aku tidak merasa tenang.
Jadwal pesawat juga ditunda, semestinya jam 21.00 menjadi jam 23.00. Aku mondar-mandir, tidak ikut bergabung dengan teman-teman lain di ruang tunggu. Paling banyak waktuku habis di kamar mandi. Obrolan teman-teman lain masih saja perkara hilangnya bagasi, persis ketika aku bisa mendapatkan kesempatan untuk duduk sebentar. Sebagian menyayangkan kejadian tersebut. Namun, sebagian besar mengikhlaskan. Biarlah, wong cuman barang-barang begituan saja. Nanti kita bisa beli lagi di Australia. Bagi sebagian orang, pengalaman terbang ini juga baru pertama kalinya. Gratis lagi.
Panggilan kepada seluruh penumpang Qantas Air terdengar. Suara perempuan yang mungkin cantik, karena suaranya yang lantang dan sendu, membuat kami semua bergegas menuju lorong yang langsung menuju ke badan pesawat. Kami tidak harus turun melewati lantai bandara. Lorongnya langsung dipasangkan ke ujung lantai di pintu keluar ruang tunggu. Lorong itu lumayan panjang. Di ujung lorong, kami disambut oleh pilot, pramugari dan crew pesawat lainnya. Mereka bersikap ramah, menyapa dan mengarahkan penumpang masih kikuk dan tidak tahu harus duduk dimana. Paspor, visa dan tiket ada di tangan masing-masing penumpang. Tak lama kemudian kami sudah siap untuk take off.
Pesawat berangkat jam 11 malam. Semua penumpang duduk dan memasangkan sabuk pengaman karena pesawat akan take off. Aku dan teman-teman mahasiswa MORA berangkat ke Australia bersama banyak penumpang lain yang warna kulitnya berbeda dengan kami. Mereka adalah penduduk aslinya yang pulang kampung, kami menjadi turis. Turis berkulit gelap dan berpostur tubuh pendek.
Meskipun so surprised dengan penerbangan ini, rasanya tidak terlalu banyak yang bisa kami nikmati. Di luar pesawat gelap. Tidak ada pemandangan yang tampak dari kaca jendela. Namun, kami sudah sangat senang. Pagi harinya, ketika kami berada atas kota Sidney barulah kami melihat awan-awan di bawah kami. Sepertinya pesawat sedang melewati jalan setapak yang warna putih bagaikan kapas. Hamparan putih ini sempat menarik perhatian mahasiswa MORA sehingga mereka pun melongok, meskipun agak malu-malu. It’s so beautiful!
Di bandara Sidney, kami tidak memiliki banyak waktu untuk bersantai ria. Semuanya bergegas meuju sebuah pesawat yang sudah menunggu untuk transit ke Melbourne. Teman-teman MORA bergegas-gegas tanpa memperdulikan keinginan dalam hatiku yang lebih suka melihat-lihat berbagai pajangan di toko-toko yang katanya duty free. Sayang, sebenarnya aku tidak memiliki uang sepeserpun.
Dalam waktu setengah jam, semua penumpang yang akan berangkat ke Melbourne sudah berada di kabin pesawat. Kami semua sudah siap berangkat.









