Feeds:
Posts
Comments

Cerita biasa

Kalau ini cerita berkembang ke banyak orang, tentunya mereka akan bertanya-tanya: bagaimana caranya sampeyan sampai ke Australia? Tidak akan banyak yang percaya kalau saya pernah berkunjung ke Melbourne. Dan.. cerita itu sudah hampir saya tutup dengan antusias saya yang menurun untuk meneruskan blog ini. Sebuah pengalaman pahit dan manis berjalan bersamaan di sana. Hanya kesan mendalam yang tersisa karena saya berkeinginan untuk kembali ke sana.

Seperti mimpi. Kita semua mendarat dan bahkan sudah sampai di pemondokan tempat kita semua menikmati short stay di Melbourne. Kita masih terbengong-bengong pada saat diantarkan ke kamar masing-masing. Satu orang mendapat jatah satu kamar.

Kamarnya sederhana saja, tetapi cukup bersih dan rapi. “Kita akan tinggal di sini selama tiga bulan lamanya!” Baru kami menyadarinya saat pemandu program, Rosemary Viete, menyampaikan bahwa nanti sore Bapak Junaidi akan mengundang kita semua dalam acara Welcoming Party di masjid kampus. Acara ini menjadi sebuah tradisi rutin jika ada WNI yang datang sebagai calon mahasiswa. Mereka yang sudah lama berada di sini akan menyediakan daging kambing untuk dibakar–barbeque.

Lama juga aku tidak menjenguk Blog yang sebenarnya menjadi andalan ini. Seperti ada kebuntuan dalam pikiran saya. Entah kenapa. Aku sendiri tidak tahu.

“Long time no see! Where have you been?” This is a start for a conversation among old friends. They have not seen each other for a long time so that they miss each other. Then, close friends separated for some periods of time will review their activities in the past or check their old friends in nowhere.

This is a start for me to remember past experiences I did in Melbourne, that was in the year of 2000. Even in the class, at a specific class in Monash University, this had been been discussed by July Harrington as she gave her lecturer in front of 11 MORA students. That was the saying she suggested. And I suggested that, in Javanese, nek cedak kabeh mambu telek nek adoh ambune koyo kembang. July was rather surprised, “What does that mean!?” Everything smells like a shit when it is near, as we are separated, all will smell like flowers.

The situation happened years ago is now flying in heart. I miss my friends. I miss a time where I can go Melbourne someday.

Dibilang narciss juga tidak apa-apa. Pembicaraan ini baru saja terungkap ketika seorang teman guru berada di luar kelas. Saya menyapanya. Sedikitnya kita ngobrol tentang persoalan yang biasa-biasa saja. Dalam pembicaraan ini dia bertanya, “Apa bapak tidak kepingin pindah ke perguruan tinggi saja? Kayaknya bapak lebih cocok di sana dan mungkin kesejahteraannya akan jauh meningkat.” Menjadi dosen, bisikku dalam hati. Saya memang mau. Selama ini saya juga sudah mengajar di sebuah PTS di Bojonegoro. Namun maksud bapak guru ini lain. Ini menanyakan mengapa saya tidak meninggalkan posisi saya sebagai guru di sekolah menengah dan melimpah mejadi dosen saja.

Saran lain dari seorang teman malah ekstrim sekali. Hanya karena kepala sekolah baru, saya disarankan untuk mengajukan pindah sekolah atau mengusahakan sebuah promosi sebagai kepala sekolah. Saya dianggap akan merugi bila masih berada di sekolah tempat mengajar yang sekarang in.

Welcome To Aussie

Pagi hari, sekitar pukul tujuh, pesawat mendarat di bandara Sidney. Kita semua bergegas turun pesawat dan memasuki koridor koridor penerbangan domistik. Kami transit menuju Melbourne. Proses perpindahan diperintahkan secepatnya, sehingga tidak lagi sempat untuk window-shopping. Seperempat jam kita semua sudah on-board lagi. 

Pesawat sudah penuh sesak dengan penumpang yang mayoritas berkulit putih. Di pesawat ini kita semua yang dianggap sebagai turis. Wajah-wajah berkulit sawo matang ini sempat juga menaraik perhatian banyak orang. Itu hanya sebentar. Kelihatannya mereka bukan tipe orang yang mudah kaget. Setelah mendapatkan tempat duduknya masing-masing, menaruh tas tentengan, kita duduk dengan tenang. Sabuk pengaman segera dipasang. Tak lama kemudian pesawat sudah merobek udara Australia. Kita pun menuju Melbourne. 

Perjalanan tidak berlangsung lama. Mungkin tak lebih dari satu jam. Suasana mendung di langit Melbourne menyambut kedatangan kita.

Tak usah menggambarkan perasaanku saat itu. Aku sendiri tidak terlalu ingat. Ada sedikit perasaan senang. Baru pertama kali aku akan naik pesawat terbang, bukan hanya untuk ke daerah lain di Indonesia. Aku akan segera menyeberangi lautan luas menuju Melbourne. Aku juga tidak pernah membayangkan berapa jauhnya. Sedikitnya, aku juga memiliki perasaan gusar. Ketua kelompok mengabari bahwa ia harus membuang semua bagasi yang sebelumnya dikumpulkannya dari teman-teman lain berupa peralatan mandi dan obat-obatan. Terpaksa, katanya. Tidak ada teman lain yang menemaninya mengangkat barang bawaan yang terlalu banyak. Padahal, ia sendiri yang berinisiatif untuk mengumpulkan barang-barang tersebut. Katanya, barang-barang semacam itu akan diperiksa dengan ketat oleh petugas bandara. Akhirnya barang-barang seperti obat-obatan, sabun, sampo, sikat gigi dan yang semacamnya dikumpulkan ke satu orang dan hanya diurusi oleh ketua kelompok. Semuanya percaya. Bagasi itu semua sudah musnah, ditinggalkan di petugas bandara. Kesal, marah dan tak karuan perasaanku saat itu. Duduk pun aku tidak merasa tenang.

Jadwal pesawat juga ditunda, semestinya jam 21.00 menjadi jam 23.00. Aku mondar-mandir, tidak ikut bergabung dengan teman-teman lain di ruang tunggu. Paling banyak waktuku habis di kamar mandi. Obrolan teman-teman lain masih saja perkara hilangnya bagasi, persis ketika aku bisa mendapatkan kesempatan untuk duduk sebentar. Sebagian menyayangkan kejadian tersebut. Namun, sebagian besar mengikhlaskan. Biarlah, wong cuman barang-barang begituan saja. Nanti kita bisa beli lagi di Australia. Bagi sebagian orang, pengalaman terbang ini juga baru pertama kalinya. Gratis lagi.

Panggilan kepada seluruh penumpang Qantas Air terdengar. Suara perempuan yang mungkin cantik, karena suaranya yang lantang dan sendu, membuat kami semua bergegas menuju lorong yang langsung menuju ke badan pesawat. Kami tidak harus turun melewati lantai bandara. Lorongnya langsung dipasangkan ke ujung lantai di pintu keluar ruang tunggu. Lorong itu lumayan panjang. Di ujung lorong, kami disambut oleh pilot, pramugari dan crew pesawat lainnya. Mereka bersikap ramah, menyapa dan mengarahkan penumpang masih kikuk dan tidak tahu harus duduk dimana. Paspor, visa dan tiket ada di tangan masing-masing penumpang. Tak lama kemudian kami sudah siap untuk take off.

Pesawat berangkat jam 11 malam. Semua penumpang duduk dan memasangkan sabuk pengaman karena pesawat akan take off. Aku dan teman-teman mahasiswa MORA berangkat ke Australia bersama banyak penumpang lain yang warna kulitnya berbeda dengan kami. Mereka adalah penduduk aslinya yang pulang kampung, kami menjadi turis. Turis berkulit gelap dan berpostur tubuh pendek.

Meskipun so surprised dengan penerbangan ini, rasanya tidak terlalu banyak yang bisa kami nikmati. Di luar pesawat gelap. Tidak ada pemandangan yang tampak dari kaca jendela. Namun, kami sudah sangat senang. Pagi harinya, ketika kami berada atas kota Sidney barulah kami melihat awan-awan di bawah kami. Sepertinya pesawat sedang melewati jalan setapak yang warna putih bagaikan kapas. Hamparan putih ini sempat menarik perhatian mahasiswa MORA sehingga mereka pun melongok, meskipun agak malu-malu. It’s so beautiful!

Di bandara Sidney, kami tidak memiliki banyak waktu untuk bersantai ria. Semuanya bergegas meuju sebuah pesawat yang sudah menunggu untuk transit ke Melbourne. Teman-teman MORA bergegas-gegas tanpa memperdulikan keinginan dalam hatiku yang lebih suka melihat-lihat berbagai pajangan di toko-toko yang katanya duty free. Sayang, sebenarnya aku tidak memiliki uang sepeserpun.

Dalam waktu setengah jam, semua penumpang yang akan berangkat ke Melbourne sudah berada di kabin pesawat. Kami semua sudah siap berangkat.

Older Posts »