Feeds:
Posts
Comments

Am I that bad?

I just wonder if I am a psychopath, or what! Begitu pikiran saya waktu itu. Bagi saya, gak benar orang membentak-bentak orang lain seperti yang dilakukan oleh petugas Edlink, Ratna entah siapa nama panjangnya. Cantik sih. Tetapi saya tidak suka gayanya sejak di Bandung dulu. Sekarang ini malah diulang kembali.

Suasana tegang di ruangan itu terasa mencekam. Suara saya tertekan oleh rasa marah yang sangat sehingga tidak sempat membantahnya. Teman-teman cenderung diam saja, tidak mau terlibat dengan persoalan yang bikin mereka pusing. Apalagi saat itu keuangan mereka juga menipis. Mungkin itu yang membuat mereka sepuluh orang peserta tidak bersuara sama sekali, kecuali pada saat kita semua harus menikmati makan malam.

Kemarahan di hati saya membuat tidak bisa menikmati hidangan apapun di sana. Perasaan ingin muntah lebih kuat dibandingkan rasa lapar.

Satu kenangan yang berkesan tentang Australia, negeri kangguru itu,  adalah keramahan penduduknya. Meskipun negeri ini terbilang modern, dan lebih maju dalam banyak hal dibandingkan dengan Indonesia, keramahan banyak ditemui di berbagai lokasi baik di desa maupun di kota. Senyum, salam dan sapa sudah menjadi ciri khas di kalangan penduduk.

Di kampus, satu kebiasaan kami adalah bertegur sapa dengan seorang staff tata usaha kampus Fakultas Pendidikan yang bernama Windy. Perempuan inilah yang akhirnya membuat hati lengket dengan lingkungan kampus lantaran semua keramahan yang ditunjukkannya meskipun ia selalu  sibuk dengan pekerjaan di ruang kerja front office. Tidak pernah ia terlalu stress meskipun harus bekerja sendirian.

Windy memberikan sedikit mimpi kepadaku untuk bisa kembali ke Monash entah berapa tahun lagi. “I will be back, Windy!”

Aku melangkah lagi

Tersendat-sendat rasanya. Semua kenanganku di masa lalu semestinya tidak usah terlalu mewarnai hidupku sekarang. Menuliskan semua kenangan yang pernah terjadi di Melbourne mungkin hanya menambah luka di hati. Salah satu sebabnya adalah kondisi kehidupan yang kini aku hadapi juga tidak terlalu ingin melihat apa saja yang sudah aku lakukan di sana. Sebagian orang mengatakan: “Tidak penting lagi masa lalumu itu. Kubur saja semuanya beserta impian-impian kosong. Hidupkan saja kekinian. Hidup dinilai dari apa yang bisa kita lakukan pada saat ini.”

Beginilah jalan kehidupan. Dan, selanjutnya aku meramu sajian-sajian baru agar ceritanya tidak berhenti di tengah jalan. Tidak ada salahnya, aku pikir. Apapun yang dikatakan orang setelah keputusan ini, biar menjadi pemanisnya.

Sambil menulis kali ini aku teringat dengan seorang teman dari Bali, Kamaludin. Dialah satu-satunya orang yang bisa bersikap netral dan cukup bersahabat pada perjalanan itu. Laki-laki ini menjadi tempat untuk aku mencurahkan perasaan hatiku dengan situasi di sana. Tetapi dia juga masih berkomentar tentang aku yang dikatakannya sebagai orang paling aneh yang pernah dikenalnya. Tak apa.

Just Pictures

Sekitar 10 tahun lalu, tepatnya bulan Oktober 1999, keberangkatan ke Monash University bersama rombongan Departemen Agama lainnya hanya terlintas samar-samar sekarang. Waktu yang begitu lama membuatku sedikit sulit menyebutkan nama teman-teman yang ikutan saat itu. Sebagian di antara mereka ada Subhan dari Mataram, Pepi dari Menado, Ika dari Magelang, Awi dari Kalimantan Barat, Halimah dari Kalimantan Selatan, Muliardi dari Riau, Safrizal dari Padang, Kamaludin dari Bali, Widayanto dari Malang, Soeparno dari Jember dan aku sendiri dari Bojonegoro. 11 orang ternyata. Dan, ada lagi 2 orang petugas dari Jakarta yang ikutan bukan karena mereka lulus dari UPI seperti kami, tetapi lantaran mereka merupakan staff yang menangani program short course ini–Qohar dan temanya perempuan yang aku lupa namanya.

Edlink menjadi biro perjalanan yang menangani segala urusan kami di sana. Aku masih ingat bahwa yang ikutan berangkat pada saat itu adalah Ratna. Dari tim penyambut kedatangan kami di Monash University yang berasal dari Indonesia juga. Mereka adalah mahasiswa pasca sarjana dengan beasiswa. Dua orang yang aku ingat adalah Junaidi dan Ena.

Cerita biasa

Kalau ini cerita berkembang ke banyak orang, tentunya mereka akan bertanya-tanya: bagaimana caranya sampeyan sampai ke Australia? Tidak akan banyak yang percaya kalau saya pernah berkunjung ke Melbourne. Dan.. cerita itu sudah hampir saya tutup dengan antusias saya yang menurun untuk meneruskan blog ini. Sebuah pengalaman pahit dan manis berjalan bersamaan di sana. Hanya kesan mendalam yang tersisa karena saya berkeinginan untuk kembali ke sana.

Seperti mimpi. Kita semua mendarat dan bahkan sudah sampai di pemondokan tempat kita semua menikmati short stay di Melbourne. Kita masih terbengong-bengong pada saat diantarkan ke kamar masing-masing. Satu orang mendapat jatah satu kamar.

Kamarnya sederhana saja, tetapi cukup bersih dan rapi. “Kita akan tinggal di sini selama tiga bulan lamanya!” Baru kami menyadarinya saat pemandu program, Rosemary Viete, menyampaikan bahwa nanti sore Bapak Junaidi akan mengundang kita semua dalam acara Welcoming Party di masjid kampus. Acara ini menjadi sebuah tradisi rutin jika ada WNI yang datang sebagai calon mahasiswa. Mereka yang sudah lama berada di sini akan menyediakan daging kambing untuk dibakar–barbeque.

Older Posts »