Feeds:
Posts
Comments

Hey, Smokers!

Merokok mungkin jadi kebiasaan yang pernah lepas dari hidupku. Sejak sekolah di sekolah menengah pertama aku sudah memulainya. Tak pernah berhenti dan tak pernah mencoba berhenti. Barangkali ini karena aku kecanduan. Namun, sepertinya lebih karena aku tidak mengalami hambatan dalam kesehatan atau masalah keuangan, sehingga aku tidak berhenti. Sekian lamanya aku merokok, yaitu mulai tahun 1981 sampai 2011. Ahh, lama juga!

Larangan merokok di Indonesia hanya beberapa tahun lalu saja disahkan sebagai se buah perundang-undangan. Namun, sosio-kultur kita memberi gambaran jelas kalau kita sudah menganggap bahwa merokok di mana pun tempatnya ya sah-sah saja. Larangan yang baku adalah di ruangan ber-AC atau rumah sakit.

Layaknya orang Indonesia, melanggar aturan pun tidak terhambat dengan aturab tertulis ataupun tidak tertulis. Aku ini seorang perokok. Padahal, aku juga melarang ank-anakku menyentuh barang ini.

Pengalaman memalukan adalah ketika aku merokok. Dari merokok inilah aku bisa mengingat Ratna, petugas Edlink yang marah-marah kepadaku sekian tahun lamanya. Kangen juga rasanya. Pingin aku ketemu dengan orang yang memarahiku habis-habisan gara-gara aku merokok di kamar asrama tempat kami menginap. Kapan ya bisa ketemu lagi dengan orang itu di tempat sama yang jauh di sana?

Hanya seumur jagung. Ungkapan ini biasa diucapkan kalau kita mengalami proses kehidupan selama tiga atau lebih sedikit. Masa tanam jagung memang hanya berkisar 3 bulan, setelah itu barulah bisa dipanen.

Tiga bulan tidak terlalu lama. Kita tidak bisa mengenali sesuatu atau seseorang dengan seksama jika kita hanya memiliki waktu selama tiga bulan. Pengalaman melakukan sesuatu yang baru berjalan tiga bulan tidak cukup masanya untuk kita jadikan pegangan sampai mendapatkan sebuah kepastian tentang apa yang kita jalani.

Tiga bulan hanya cukup untuk kita manfaatkan sebagai tahap awal sebuah pengenalan. Masih banyak waktu yang kita perlukan untuk menyelami lebih dalam masalah yang kita hadapi. Tiga bulan juga tidak cukup untuk kita memastikan karakter sesorang, apabila tidak terjadi pengalaman penting.

It’s too bad!

Berjalan tanpa tujuan akan membawa kita kepada sebuah pemberhentian yang tidak begitu jelas. Kita juga tidak merasakan kesan yang mendalam di hati. Kata orang perjalanan semacam itu disebut “mengikuti arah angin”. Hal ini dikatakan oleh orang Jawa sebagai ora ngalor lan orang ngidul. Begitulah perasaanku saat itu. Mau bagaimana lagi… I was lost in the jungle. Mungkin parah juga dibilang aku sedang mengalami gangguan kejiwaan paranoia yang akut.

Teman-temanku sudah pergi semua. Tampaknya mereka tidak aku mengajak  aku, dan aku ditinggal di asrama. Sempat aku dengar kalau  mereka berkunjung ke konsulat di tengah kota Melbourne untuk mengikuti pengajian di sana. Tega juga mereka meninggalkan aaku begitu saja.

Aku tak pernah tahu dimana lokasi konsulat RI di kota ini. Entah jalan mana yang harus aku lalui. Namun aku sangat ingin menyusul mereka yang sudah berangkat duluan.

Benar aku mengulangi pola-pola petualangan yang sama saja aku lakukan di Indonesia.

Keberangkatannya tidak terbayangkan. Semua berjalan begitu cepat. Prosesnya hanya karena penyelesaian thesis secara kilat. Ketika berhasil menunjukkan ketuntasan belajar, maka kami mendapatkan reward untuk berjalan-jalan ke negeri seberang selatan. Kota Melbourne adalah tujuan kita bersama.

Kalaupun ada kesempatan berlebih ingin rasanya aku kembali bersama keluarga, untuk berlibur dan sekaligus melanjutkan program belajar di jenjang yang lebih tinggi. Mimpiku indah. Aku ingin kuliah lagi di sana.

Am I that bad?

I just wonder if I am a psychopath, or what! Begitu pikiran saya waktu itu. Bagi saya, gak benar orang membentak-bentak orang lain seperti yang dilakukan oleh petugas Edlink, Ratna entah siapa nama panjangnya. Cantik sih. Tetapi saya tidak suka gayanya sejak di Bandung dulu. Sekarang ini malah diulang kembali.

Suasana tegang di ruangan itu terasa mencekam. Suara saya tertekan oleh rasa marah yang sangat sehingga tidak sempat membantahnya. Teman-teman cenderung diam saja, tidak mau terlibat dengan persoalan yang bikin mereka pusing. Apalagi saat itu keuangan mereka juga menipis. Mungkin itu yang membuat mereka sepuluh orang peserta tidak bersuara sama sekali, kecuali pada saat kita semua harus menikmati makan malam.

Kemarahan di hati saya membuat tidak bisa menikmati hidangan apapun di sana. Perasaan ingin muntah lebih kuat dibandingkan rasa lapar.

Satu kenangan yang berkesan tentang Australia, negeri kangguru itu,  adalah keramahan penduduknya. Meskipun negeri ini terbilang modern, dan lebih maju dalam banyak hal dibandingkan dengan Indonesia, keramahan banyak ditemui di berbagai lokasi baik di desa maupun di kota. Senyum, salam dan sapa sudah menjadi ciri khas di kalangan penduduk.

Di kampus, satu kebiasaan kami adalah bertegur sapa dengan seorang staff tata usaha kampus Fakultas Pendidikan yang bernama Windy. Perempuan inilah yang akhirnya membuat hati lengket dengan lingkungan kampus lantaran semua keramahan yang ditunjukkannya meskipun ia selalu  sibuk dengan pekerjaan di ruang kerja front office. Tidak pernah ia terlalu stress meskipun harus bekerja sendirian.

Windy memberikan sedikit mimpi kepadaku untuk bisa kembali ke Monash entah berapa tahun lagi. “I will be back, Windy!”

Aku melangkah lagi

Tersendat-sendat rasanya. Semua kenanganku di masa lalu semestinya tidak usah terlalu mewarnai hidupku sekarang. Menuliskan semua kenangan yang pernah terjadi di Melbourne mungkin hanya menambah luka di hati. Salah satu sebabnya adalah kondisi kehidupan yang kini aku hadapi juga tidak terlalu ingin melihat apa saja yang sudah aku lakukan di sana. Sebagian orang mengatakan: “Tidak penting lagi masa lalumu itu. Kubur saja semuanya beserta impian-impian kosong. Hidupkan saja kekinian. Hidup dinilai dari apa yang bisa kita lakukan pada saat ini.”

Beginilah jalan kehidupan. Dan, selanjutnya aku meramu sajian-sajian baru agar ceritanya tidak berhenti di tengah jalan. Tidak ada salahnya, aku pikir. Apapun yang dikatakan orang setelah keputusan ini, biar menjadi pemanisnya.

Sambil menulis kali ini aku teringat dengan seorang teman dari Bali, Kamaludin. Dialah satu-satunya orang yang bisa bersikap netral dan cukup bersahabat pada perjalanan itu. Laki-laki ini menjadi tempat untuk aku mencurahkan perasaan hatiku dengan situasi di sana. Tetapi dia juga masih berkomentar tentang aku yang dikatakannya sebagai orang paling aneh yang pernah dikenalnya. Tak apa.

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.